“Na! Lama banget sih lo!”
Dengus Lita sebal dibalik pintu. Cewek yang dipanggil ‘Na’ ini bernama Nana, sahabat Lita. Mereka bersahabat sudah 3 tahun, sejak pertemuannya di tempat les.
“Iya, iya sabar. Baru aja pakean Ta. Sabar dikit napa,” Balas Nana tak kalah sebal. “Yaudah, gue tunggu diluar ya!” seru Lita sambil melesat pergi ke teras. Hhhh! Libur-libur gini tetep aja Les, padahal kan pengen santai santai. Gerutu Nana dalam hati. Ia pun menyiap kan buku pelajaran lesnya, menyisir rambut dan tak lupa—berdandan sedikit sebelum pergi. Biar terkesan rapih aja.
“Ta, ayo.” Sosor Nana duluan. “Ehh, hei! Tunggu!” sahabatnya ini pun langsung ngeloyor pergi ngikutin Nana. Mereka pun ngobrol basa-basi, sampai berhenti di sebuah perapatan.Nana melambaikan tangan kearah sopir angkot, tanda untuk berhenti. Mereka pun naik ke dalam angkot.
Tujuan mereka adalah ke Tempat Les Cerdas, sebuah bimbingan belajar. Nana sudah les disini selama 3 tahun, sedangkan Lita 4 tahun. Cukup lama untuk ukuran anak remaja yang gampang bosan.“Eh Na, liat deh” bisik Lita dari samping. “Ada secarik kertas tuh, isinya apa ya?” sahut Lita penasaran. Ia pun mengambil secarik kertas itu pelan-pelan.“Palingan cuma sobekan kertas.” Jawabnya dingin. Lita pun mencibir. Lita pun konsentrasi membaca kertas itu, siapa tau penting, bisiknya dalam hati.
Si Lita alias Ratu Penasaran ini emang paling penasaran sama sesuatu. Makanya kalau cerita apa-apa ke dia, pasti bakal ditanya macem-macem.
“Wah! Isinya nomer HP!” serunya semangat. Nana langsung member pelototan maut ke arah Lita. Duh, Nana malu banget. Seolah-olah orang orang di dalam angkot berkata –Sstt! Diem apa! atau Apa-sih! Norak-banget-liat-nomor-hp! “Duh Ta! Suara lo kenceng banget! Bikin gue malu aja!” sikut siku Nana keras. Pipi Nana merah nggak jelas, gara-gara malu.
“Hehehe.. Maap Na, liat nih, isinya nomor HP orang.” Tunjuknya pada Nana.“Kayaknya sih nomor HP cowok, soalnya disini ada tulisan nama cowok ---Deza.” Ia pun menunjuk nama di kertas itu, sambil cekikikan nggak jelas. Tapi denger nama Deza, Nana jadi inget sama mantannya, Deza. Tapi ia telah membuang jauh jauh nama itu, dan seolah-olah tidak peduli dengan nama orang di kertas itu.
“Siapa tau nomor mantan lo Na!” jawabnya asal. “Kita save aja nomornya Na, kan lumayan buat--- Hei! Hei tunggu Na!” Tau-tau sahabatnya ini turun dari angkot. Ternyata angkotnya udah berhenti di pertigaan, tempat Lesnya berada. “Nih Bang!” Lita pun mengeluarkan secarik kertas lusuh bernilai 2000 Rupiah dan langsung ngeloyor pergi.
“Kok ninggalin gue sih!” Cibir Lita bete. Ia pun berlari kecil menyusul Nana. “Siapa suruh, ngomong mulu dari tadi” jawabnya santai. “Ih! Emang salah? Sebel, ah!” Gerutunya makin bete.
“Yaudah, maaf deh say, abis lo sih komat kamit ga jelas sih kayak keran bocor” Usil Nana sedikit. Bibir Lita di muncungin nggak jelas. Nana hanya cekikikan nggak jelas. “Yuk masuk kelas. ”Ajaknya menuju kelas. Lima menit lagi pelajaran mulai, mereka pun mencari tempat duduk masing-masing.
Orang-orang di kelas sibuk cerita dengan teman-temannya. Lita pun asyik online dengan ponsel barunya. Nana pun melamun memikirkan kejadian tadi. Apa bener ya? Itu nomornya Deza? Pikirnya dalam hati. Kalau iya, rasanya Nana pengen ngobrol-ngobrol dengannya.
Eh? Apa? Ngobrol? Puk Puk! Nana menepuk keningnya sendiri pelan. Duh, gue kan harus ngelupain dia! Tapi kan nggak salah kalau ngobrol basa-basi? Pikirnya lagi dalam hati.
Ya, Deza mantan pacarnya Nana 4 bulan yang lalu. Sebenarnya Nana nggak ngerti mereka putus atau engga. Deza tiba-tiba menghilang begitu saja. Ingin rasanya ia mencarinya di Bangkok. Tapi bagaimana caranya? Ia harus bilang apa kepada Orang Tuanya kalau ingin ke Bangkok? Ya, mereka pacaran Long Distance. Nana berada di Jakarta sedangkan Deza berada di Bangkok. Mereka bertemu di sebuah Cafeteria dekat Rumahnya dulu. Yang sekarang menjadi sebuah Restoran Jepang.
Nana sering berpikir, di Bangkok pasti banyak perempuan yang lebih ‘Wah’ dari dirinya. Banyak perempuan seksi, tinggi, langsing yang banyak ditemui disana. Sebetulnya Nana cukup manis, berambut panjang, tinggi 148cm dan berat badan proposional. Tapi umur mereka cukup jauh, Nana 17 tahun sedangkan Deza 21 tahun. Rasanya seperti pacaran dengan om-om saja.
Tapi kenapa ya? Rasanya Nana kangen banget sama Deza. Apa minta saja nomor yang tadi ada di Lita?. Tapi bisa saja itu nomor orang lain. Pikirnya sambil mengangguk-anggukan kepala.
Bel telah berteriak-teriak tanda pelajaran dimulai. Guru pelajaran masing-masing kelas masuk dan mengabsen murid yang ada. 15 menit pun berlalu. Pelajaran siap dimulai. Tapi entah mengapa, bayangan Deza terus berdatangan dipikiran Nana..
“Huuaammh” nguap Lita lebar. Saling lebarnya mungkin satu semangka masuk.
Nana yang melihatnya langsung beradu alisnya. “Heh, lo tuh nguap ditutup. Nanti bisa kemasukan setan, lho. Lagian lo kan cewek. Malu atuh” jelas Nana sang Penasehat.
Lita memutar matanya. “Abis ngantuk banget, Na. Pelajaran tadi suntuk banget. Mana gurunya ngebosenin banget” jawabnya geluh .“My Lovely Fandi nggak masuk lagi. Huh, kan jadi kangen.” Fandi yang dimaksudkan tadi adalah seorang guru Matematika yang mengajar di Bimbingan Cerdas. Umurnya masih muda, sekitar 23 tahun. Tampangnya pun menurut Nana memang Cakep, tapi Nana nggak suka model cowok kayak gitu. Soalnya dia terlalu serius.
Ngomong-ngomong soal cowok, Nana inget lagi sama Deza. Apa tanya aja ya nomornya? Tapi si Lita kan penasaran banget orangnya. Nanti bisa ditanya macem-macem lagi. Tanpa sadar ia ngelamun ngeliatin abang-abang tukang jagung. Abangnya malah kege-eran sambil cengar cengir.
Lita pun mengikuti arah mata Nana. “Ngelamun aja Neng!” sikut Lita sambil naikin alisnya. “Apaan sih, Ta. Kan cuma lagi pengen aja.” balasnya santai. Tapi entah mengapa pipi Nana bersembut merah. Nana pun pura-pura melihat pohon yang ada di sebrang sana.
“Cie cieee! Pipinya merah tuh! Mikirin siapa hayooo??” Goda Lita iseng. “Mikirin abang tukang jagung ya? Dari tadi ngeliatin..” tebaknya sambil menunjuk abang tukang Jagung “Atau Deza ya? Ya? Ya?” tanyanya sambil senyum usil “Nih gue kasih deeh kertas yang tadi.. Siapa tau itu beneran nomornya Deza.” Lita pun sibuk ngeluarin secarik kertas yang tadi ditemuin di angkot.
“Nih! Ambil aja Na, gue ikhlas kok..” goda Lita lagi sambil memberi kertas tadi. Nana pun menerimanya dan melihatnya dalam-dalam. “Siapa tau beneran dia Na. Lagian kan jarang ada orang yang namanya Deza..” katanya sambil bergumam nggak jelas.
“Gue kan nggak minta” jawab Nana singkat. Ia pun mencondongkan kepalanya menghadap Lita.
Wajah Nana pun berbubah muram. Mendadak Lita jadi nggak enak godain Nana tadi. Lagian Nana pernah bilang untuk ngelupain Deza.
“Ehh Na.. Maaf maaf.. Gue lupa kalo lo udah..” Lita memutuskan omongannya. “ngelupain dia..” Wajah Lita memelas. Duh, Nana jadi kasian ngeliatnya.
Hening. Lita menunggu reaksi Nana. Wajah Nana makin muram.
…
Beberapa detik..
“Hahahahahahahaha!” Nana spontan langsung tertawa. “Lo tuh gampang banget diboongin yah! Baru gue pasang muka muram aja udah melas! Apa lagi kalo gue pura-pura nangis! Hahahahaha!” Nana tertawa keras. Sangking kerasnya ia sampai sakit perut.
“Jahat! Huh! Padahal tadi udah serius! Ah sebel!” Lita pun makin memonyongkan mulutnya yang kalau gitu udah kayak ikan megap-megap.
“Hahaha! Duh duh..” Nana memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.
“Syukurin! Makanya jangan ketawain orang!” Ejeknya bete. “Iya iya deh, maap bu! Gitu aja marah.” Nana pun masih cengengesan dan meneruskan perjalanan pulang.
Huahh! Cape banget! Sungut Nana dalam hati. Ia pun membanting dirinya ke ranjang, beserta tasnya. Perlahan-lahan ia menutup mata, lalu membukanya lagi. Matanya beralih ke arah jam Hello Kitty, yang menunjukkan jam 20.30. Jam itu didapatkan pada saat dia berulang tahun ke-16.
Nana baru saja pulang dari Les Cerdas, yang selesai pukul 8 malam. Suntuk juga, belajar malam-malam. Tapi mau gimana lagi. Ia pun bangun, dan bergegas ke kamar mandi. Untuk bersih-bersih sebelum tidur.
Ia pun selesai. Tak lupa ia memakai cream night khusus untuk wajah. Biar kulitnya Halus dan Lembut. Lagi-lagi Nana teringat pada Deza. Ia pun mencari didalam tas lalu mengambil secarik kertas yang dicari, dan mengambil ponsel kesayangannya.
Sepuluh digit angka yang ada dikertas itu. Nana berpikir keras. Mungkin nggak nomor yang ada di kertas ini nomor ponsel Deza? Tapi nggak mungkin juga, Deza kan ada di Bangkok. Masa nyasar ke Jakarta? Kalau benar itu nomornya, apa yang harus ia katakan? Marah? Kecewa? Sedih? Senang? Perasaannya campur aduk. Setengah hatinya mengatakan kalau itu benar nomor Deza. Setengahnya lagi mengatakan bahwa itu bukan nomor Deza. Apa yang harus dia lakukan?
Nana pun memantapkan hatinya. Ia tidak berani melepon. Cukup SMS saja, toh kalaupun salah tidak terlalu malu. Mumpung nomor ponsel Nana baru, jadi belum banyak yang tahu.
Ia pun mengetik kata-katanya pelan, lalu memencet kata ‘Kirim’ . Sebuah gambar berbentuk surat menari-nari dilayar ponsel Nana. Ia menuliskan :
Hai, maaf gnggu.
Cma mw tanya, ini Deza bukan ya?
Deza Pradipta.
Kalo bnr, tlong sms balik.
Thx
Tampa sadar bulu kuduknya merinding. Kalau benar ia harus bagaimana? Memintanya balik atau memutuskan hubungannya secara ‘resmi’ ? Ia menunggu menatapi layar ponselnya.
Hening..
Tak ada tanda-tanda ponselnya berbunyi.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Nana mulai putus asa, ia lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Hhh.. Mungkin bukan dia. Nana pun menutup mata. Biarlah, mungkin Deza sudah bersama orang lain. Tak terasa air matanya menumpuk di ujung mata. Lalu ia biarkan mengalir air matanya satu per satu..
Kweeek kweeeek kweeeek~~
Suara apa itu? Nana membuka matanya. Dan--OhMyGod! Ponselnya berbunyi! Buru-buru dia melihat siapa yang SMS. Dan SMS yang baru masuk membuatnya matanya melotot tak percaya. Nomor yang sama di kertas itu. Ia membaca pesannya. :
Iya, ini Deza.
Ini siapa ya?
Nana mematung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar